Jadi, sekarang ini Kalimantan dibagi menjadi 5 provinsi yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.
Berikut adalah pembahasan mengenai rumah adat Kalimantan beserta gambar dan penjelasan singkatnya. Selamat membaca.
1. Rumah Adat Kalimantan Tengah: Rumah Betang

Rumah Betang ialah salah satu rumah adat kalimantan yang bisa kita jumpa dan kita lihat di berbagai tempat di seluruh darah di Pulau Kalimantan. Terutama rumah adat ini bisa kita jumpai di wilayah kepala sungai yang biasanya menjadi pusat wadah atau tempat tinggal penduduk Suku Dayak.
Suku Dayak Kalimantan menjadi sungai ini sebagai sarana transportasi utama. Di sana mereka bisa mengerjakan atau melakakukan berbagai kegiatan kehidupan dan keseharian misalkan seperti pergi ke sawah yang biasanya letak lokasi ladang tersebut jauh dari tempat tinggal mereka.
Bagi mereka sungai ini bisa dijadikan sebagai tempat untuk berdagang dimana ketika pada zaman dahulu kala Suku Dayak melakukan perdagangan dengan memakai sistem barter satu sama lain yaitu menggunakan sistem tukan menukar dari hasil kebun, ladang, atau dari hasil ternak.
Rumah Betang ini memiliki bentuk wujud yang sangat beragam . Ada Rumah Betang yang memiliki bentuk yang panjang rumahnya hingga 150 meter dengan ukuran lebar bisa mencapai 30 meter. Bentuk bangunan Rumah Betang ini berwujud panggung dengan memiliki ketinggan kurang lebih sekitar 3-5 meter dari permukaan tanah.
Ketinggian dari Rumah Betang tersebut bertujuan untuk menghidari dari resiko-resiko yang memang resiko tersebut bisa membuat para penduduk kerugian, misalkan seperti resiko adanya banjir ketika memasuki musim penghujan yang kerap mengancam dari kepala sungai di Pulau Kalimantan.
Dalam beberapa departemen permukiman, terkadang mereka memiliki Rumah Betang tidak hanya satu atau lebih dari satu. Persoalan ini semuanya tergantung pada besarnya sebuah anggota kelompok pemukiman tersebut.
Di setiap keluarga menempati ruangan atau biliki yang dihalang atau disekat dari Tumah Betang yang besar itu. Selain dari itu, Suku Dayak juga mempunyai tempat tinggal sementara untuk kegiatan berladang, berkebun, berternak dan kegiatan-kegiatan lain sebagainya, karena jarak tempuh dari tempat tinggal mereka yang jauh dari ladang dan pemukiman membuat penduduk Suku Dayak ini untuk membuat tempat tinggal sementara.
Yang perlu kalian ketahui ialah bahwa Rumah Betang ini bukan hanya sekedar dari bangunan-bangunan tempat untuk dijadikan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Suku Dayak. Rumah Betang ini merpakan sebuah jantung dari struktur sosial kehidupan penduduk Suku Dayak.
Kehidupan atau budaya betang adalah cerminan atau contoh mengenai kebersamaan ketika sedang menjalani atau mengerjakan kegiatan didalam kehidupan sehari-hari penduduk Suku Dayak. Didalam kehidupannya setiap garis kehidupan perorangan telah diatur secara sistematis melalui kesepakatan yang telah disepakati bersama.
Persoalan lainnya yang bisa kita contoh dari kehidupan tersebut ialah adalah keamanan bersama. Baikt itu dari adanya gangguan-gangguan kejahatan atau dari berbagai makanan, duka dan suka ataupun aktivasi tenaga untuk mengerjakan ladang atau perekebunan.
Nilai utama yang paling diperlihatkan dari Tumah Betang adalah nilai kebersamaan antar orang-orang yang menetap atau tinggal di dalam rumah tersebut. Dan juga terlepas dari berbagai macam perbedaan apapun yang telah mereka miliki.
Dari persoalan tersebut kita bisa mengetahui bahwa Suku Dayak adalah suku yang begitu menghargai adanya sbuah perbedaan. Suku Dayak juga sangat menghergai sekali kepada perbedaan suku, agama, ras, dan latar belakang kemasyarakatan.
2. Rumah Adat KalimantanBarat: Rumah Panjang

Rumah adat dari Kalimantan Barat ini memiliki lebih dari 50 ruangan dengan banyak dapur. Rumah ini juga dihuni oleh banyak anggota keluarga, termasuk juga keluarga inti. Bahkan ada rumah panjang di Kapuas Putussibau yang terdiri dari 54 bilik beranggotakan banyak keluarga di dalamnya.
Rumah ini umumnya dibangun di atas sebuah tinggi dengan tinggi 5-8 meter layaknya panggung. Ada yang panjang totalnya mencapai 186 meter dengan lebar 6 meter. Untuk masuk ke dalam rumah ini, harus melewati anak tangga yang disebut tangka.
3. Rumah Adat Kalimantan Timur: Rumah Lamin

Rumah Lamin juga merupakan rumah adat suku Dayak, terutama yang berada di Kalimantan Timur. Kata ‘rumah lamin’ itu sendiri memiliki makna ‘rumah panjang kita semua’, dimana rumah ini memang digunakan secara bersama oleh banyak keluarga yang tergabung dalam satu keluarga besar.
Cari dari rumah adat ini ialah berbentuk panggung dengan tinggi kolong hingga 3 meter. Denah rumah ini berbentuk segi empat memanjang beratap pelana.
Tiang rumah terdiri dari dua bagian yakni, bagian pertama untuk menyangga rumah dari bawah hingga atap. Sedangkan bagian kedua merupakan tiang kecil untuk mendukung balok-balok lantai panggung.
Kedua tiang tersebut berada di bagian kolong yang kadang diukir dengan bentuk patung-patung yang bertujuan untuk mengusir gangguan roh jahat.
Ukuran rumah Lamin lebarnya 25 meter dengan panjang bisa mencapai 200 meter. Sebab panjangnya sehingga terdapat beberapa pintu masuk yang terhubung dengan tangga.
Pintu masuk rumah ini terdapat di bagian sisi yang memanjang. Ruang dalam rumah ini terbagi menjadi dua bagian yakni dua bagian memanjang di sisi depan serta belakang.
Sisi depan berupa ruangan terbuka yang digunakan untuk menerima tamu, upacara adat, serta untuk tempat berkumpul anggota keluarga. Bagian belakang terbagi menjadi kamar-kamar yang luas, di mana per kamarnya bisa dihuni oleh 5 keluarga.
Rumah Lamin umumnya dihias denga berbagai ornamen serta dekorasi yang memiliki arti filosofis khas suku Dayak. Ornamen yang khusus dari rumah milik bangsawan ialah hiasan atap yang mempunyai dimensi hingga 4 meter dan berada di bubungan.
Warna yang dipakai pada rumah Lamin juga memiliki arti tersendiri. Kuning melambangkan kewibawaan, merah melambangkan keberanian, biru melambangkan loyalitas, dan putih melambankan kebersihan jiwa.
Di halaman depan rumah Lamin terdapat tonggak-tonggak kayu yang diukir berupa patung. Tiang yang terbesar dan tertinggi berada di tengah-tengah yang bernama ‘sambang lawing’. Tiang ini digunakan untuk mengikat hewan korban yang digunakan dalam upacara adat suku Dayak.
4. Rumah Adat Kalimantan Selatan: Rumah Banjar

Rumah adat khas suku Banjar biasa disebut dengan Rumah Banjar Bubungan Tinggi. Dinamakan seperti itu sebab bagian atapnya yang lancip bersudut 45ΒΊ. Bangunan rumah adat Banjar ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 yakni saat daerah Banjar berada di bawah kekuasaan Pangeran Samudera.
Pangeran Samudera sendiri merupakan raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Beliau lalu mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelumnya, beliau beragama Hindu dan memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596-1620 M.
Mulanya bangunan rumah adat ini memiliki konstruksi berbentuk segi empat memanjang ke depan. Namun, dalam perkembangannya bentuk tersebut kemudian ditambah di samping kiri dan kanan. Serta agak ke belakang ditambah sebuah ruangan yang memiliki panjang sama.
Bangunan tambahan di bagian kiri dan kanan tersebut disebut sebagai anjung. Oleh karena itu, bangunan rumah adat Banjar tersebut populer dengan nama Rumah Ba-anjung.
Sekitar tahun 1850-an, bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar terutama di lingkungan keraton Martapura juga terdapat bentuk bangunan rumah lain.
Akan tetapi, rumah Ba-anjung sendiri tetap menjadi bangunan induk utama sebab rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal sultan Banjar.
Bangunan rumah lain yang juga menyertai rumah ba’anjung disebut Palimasan emas dan perak yang mana sebagai tempat menyimpan harta kekayaan kesultanan.
Balai Laki merupakan tempat tinggal para menteri kesultanan, sedangkan Balai Bini sebagai tempat tinggal para inang pengasuh. Gajah Manyusu sebagai tempat tinggal keluarga terdekat dari kesultanan yakni para Gusti dan Anang.
Selain itu juga terdapat bangunan rumah adat lain dengan namanya tersendiri seperti Gajah Baliku, Palimbangan, dan Balai Seba.
Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata semakin banyak bangunan yang didirikan baik di sekitar keraton atau daerah lain yang meniru gaya bangunan rumah ba’anjung.
Oleh sebab itu, bentuk rumah ba’anjung tak lagi menjadi bentuk ciri khas dari keraton, tapi menjadi ciri khas dari bangunan penduduk daerah Banjar.
5. Rumah Adat Kalimantan Utara: Rumah Baloy

Rumah Baloy merupakan berdesain panggung yang terdiri dari kayu ulin secara keseluruhan. Kayu ulin merupakan kayu khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat struktur seratnya. Kayu ini juga merupakan bahan baku utama dalam pembuatan rumah adat Kalimantan yang lain.
Rumah ini memiliki ukiran-ukiran khas yang menggambarkan kearifan lokal khas daerah pesisir. Pengaturan arah rumah Baloy tergolong unik dimana diatur sedemikian rupa menghadap ke utara dengan pintu utama menghadap ke arah selatan.
Rumah Baloy merupakan rumah adat suku Tidung yakni sub suku Dayak sehingga memiliki rumah yang juga mirip dengan rumah Lamin. Beberapa ahli bahkan mengatakan bahwa rumah adat Baloy merupakan pengembangan dari rumah Lamin.
ππ
ReplyDeleteWaw
ReplyDeleteKeren
ReplyDeleteWow
ReplyDeleteNice
ReplyDeleteNice
ReplyDeletegood
ReplyDelete